Koordinator Forum Kebangsaan Ormas, Paguyuban, dan Kerukunan Kalimantan Tengah (Kalteng ) Yanto Eko Saputra Sesalkan Insiden Pelecehan Vokalis Wanita di Palangka Raya: Cederai Nilai Falsafah Huma Betang dan Adat Dayak

Terkini 28 Sep 2026 17:29 • 2 min read • 34 views • By okto

Share berita ini

Koordinator Forum Kebangsaan Ormas, Paguyuban, dan Kerukunan Kalimantan Tengah (Kalteng ) Yanto Eko Saputra Sesalkan Insiden Pelecehan Vokalis Wanita di Palangka Raya: Cederai Nilai Falsafah Huma Betang dan Adat Dayak
"Seharusnya sikap toleransi, saling menghargai gender, serta rasa tenggang rasa senantiasa ditanamkan di Bumi Tambun Bungai, Kalimantan Tengah. Apa pun alasannya, tindakan yang merendahkan harkat dan martabat perempuan di muka umum tidak dapat dibenarkan," ujar Yanto saat dimintai tanggapannya, Senin (28/9/2026).

PALANGKA RAYA — Insiden tidak menyenangkan yang menimpa seorang vokalis wanita dari grup band R.A.S.Y.A saat tampil dalam acara konser musik amal di Palangka Raya menuai sorotan tajam berbagai pihak. Peristiwa yang terjadi pada Jumat malam, 20 September 2026, di Kedai Kopteja tersebut dinilai mencederai nilai-nilai etika, kesopanan, serta kearifan lokal yang dijunjung tinggi di Bumi Tambun Bungai.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Forum Kebangsaan Ormas, Paguyuban, dan Kerukunan Kalimantan Tengah (Kalteng), Yanto Eko Saputra, memberikan tanggapan tegas. Ia menyayangkan terjadinya tindakan oknum tidak bertanggung jawab yang membawa dan meletakkan pakaian dalam di hadapan musisi wanita saat pementasan amal untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tersebut.

Menurut Yanto Eko Saputra, insiden semacam ini tidak seharusnya terjadi di daerah yang menjunjung tinggi adat istiadat dan kehormatan sesama manusia.

"Seharusnya sikap toleransi, saling menghargai gender, serta rasa tenggang rasa senantiasa ditanamkan di Bumi Tambun Bungai, Kalimantan Tengah. Apa pun alasannya, tindakan yang merendahkan harkat dan martabat perempuan di muka umum tidak dapat dibenarkan," ujar Yanto saat dimintai tanggapannya, Senin (28/9/2026).

Ia menegaskan bahwa falsafah Huma Betang yang menjadi pedoman hidup masyarakat Kalimantan Tengah mengajarkan kebersamaan, kesetaraan, kerukunan, serta rasa saling menghormati antarsesama tanpa memandang latar belakang.

Oleh karena itu, Yanto berpesan kepada seluruh generasi muda-mudi di Kalimantan Tengah agar ke depannya senantiasa memiliki kepekaan sosial serta mengamalkan nilai-nilai luhur falsafah Huma Betang dalam setiap ruang publik, termasuk dalam mengekspresikan diri saat menghadiri atau mengisi kegiatan seni.

"Ke depan, generasi muda-mudi kita harus memiliki pemahaman mendalam dan benar-benar mengamalkan falsafah Huma Betang. Sikap saling menghargai antarsesama manusia, menghormati seniman yang sedang berkarya, serta menjunjung tinggi etika berkesenian harus terus dirawat bersama," tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, korban bersama pihak manajemen band telah memutuskan untuk membawa permasalahan ini ke jalur hukum karena pihak terduga pelaku tidak menunjukkan iktikad baik untuk meminta maaf secara langsung, bahkan sempat menyebut reaksi korban sebagai tindakan yang berlebihan.

Kasus ini kini menjadi pengingat penting bagi publik luas mengenai pentingnya menciptakan ruang aman, inklusif, dan penuh rasa hormat bagi para pekerja seni, khususnya musisi wanita, di setiap panggung pertunjukan. (Red)

News Sekilas Kalteng

Recent Articles

Popular Articles

Chat with us on WhatsApp